Sikap Menghakimi dan Stereotip

Dr SeussIngin sekali mengatakan kalau saya ini orang yang bijaksana dan sempurna, tidak pernah menilai orang lain dari sekadar penampilan nya, atau tidak stereotip terhadap orang dari suku atau kalangan tertentu, tapi kenyataan nya tidak.

Tanpa disadari I do judge people, saat melihat seseorang masih menggunakan hp model lama, saya langsung memutuskan kalau orang tadi pastilah gaptek dan nggak mau meng-update diri nya. Saat mendengar seseorang berasal dari suku tertentu, saya langsung menyimpulkan kalau karakter orang tadi pasti cenderung pemarah dan keras kepala. Dua hal tersebut baru contoh kecil nya saja. Dan saya yakin banyak orang melakukan hal ini juga kan (ups.. saya baru saja menghakimi lagi tuh.. hehe..)

Tentu tidak semua penilaian tersebut adalah negatif, bisa juga penilaian nya hal-hal yang positif, namun kemungkinan besar akan lebih banyak negatif nya daripada positif nya. Kenapa kita melakukan hal tersebut? Bukan nya ini manusiawi ya?

Satu hal yang pasti, kita tidak bisa berlindung dibalik ‘kemanusiawian’. Menghakimi dan stereotip pada dasar nya adalah salah, kenapa? Simply karena kita juga tidak menyukai jika orang lain melakukan hal tersebut kepada kita, sesederhana itu alasan nya.

Fakta nya adalah, most people judge.. Yang terpenting sekarang adalah, bagaimana kita mengambil hikmah baik nya, mulai dari diri kita sendiri:

Kita Tidak Bisa Mengontrol Pemikiran Orang Lain

Satu hal yang pasti, kita tidak bisa mengontrol pemikiran dan perkataan orang lain, tapi kita bisa mengontrol pemikiran dan perkataan diri sendiri. Jadi kalau ada orang lain menghakimi, ya terima saja, tetap menjadi diri sendiri, namun bersikap terbuka dan berlapang dada, bisa jadi ada hal-hal yang memang harus kita perbaiki bukan. Berusaha keras meluruskan malah mungkin bisa jadi bumerang dan makin menguatkan penilaian orang tersebut kepada kita.

Berusaha Menjadi Orang Yang Lebih Baik

Penilaian orang lain itu bisa jadi seperti kritik membangun, yang membuat kita terus berusaha menjadi lebih baik lagi. Jika kita balas menghakimi balik, lalu apa beda nya kita dengan meraka? Merasakan betapa tidak enak nya dihakimi mesti nya juga jadi pelajaran bagi kita untuk tidak menghakimi orang lain.

AA Gym bilang, kita tersinggung dengan penilaian orang lain karena kita pada dasarnya ingin dianggap baik dan sempurna oleh manusia, ketidakmampuan kita menerima perkataan orang mungkin menunjukkan diri kita yang masih tinggi hati, kita mesti lebih rendah hati dan percaya bahwa yang terpenting adalah penilaian dari Allah SWT, bukan dari manusia.

Artikel di situs Positively Present mengulas apa itu judging, penyebab nya dan tips agar kita mengurangi penghakiman terhadap orang lain dengan amat baik, silahkan dibaca.

Comments

  1. Setuju, mencari jempol manusia itu nggak akan pernah ada habisnya… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: