7 Ciri Mukmin Yang Beruntung Dan Bahagia

Bahagia-2Minggu ini khotib menyampaikan 7 ciri mukmin yang beruntung dan bahagia. Siapa pun ingin bahagia bukan, jadi menarik juga untuk di dengarkan. Berikut ciri-ciri nya:

1. Khusyuk Dalam Sholat

Sebenarnya filosofi sholat itu luar biasa, dimulai dengan fisik yang bersih (wudhu), menutup aurat, lalu Al-Fatihah untuk senantiasa meminta ditunjukkan jalan yang lurus, juga menundukkan badan di hadapan Allah. Kebersihan fisik, pakaian yang pantas, introspeksi diri dan sikap rendah hati akan bisa terbawa di keseharian diantara waktu sholat.

Hati tentram karena tahu ada yang maha mengatur segala nya, impact nya bukan hanya pada diri orang itu namun juga orang di sekitar nya, pasti nya ini akan bisa membuat seseorang lebih tenang dan bahagia.

2. Menjauhkan Diri Dari Perkataan & Perbuatan Tidak Berguna

Ada begitu banyak masalah yang ditimbulkan akibat orang tidak bisa menahan perkataan/tulisan nya, think before you speak or write, kalau lagi marah, tahan perkataan sampai lebih cooling down. Menjadi pendengar yang baik itu lebih utama. Akan ada lebih banyak energi dan waktu yang bisa dialokasikan untuk hal-hal yang lebih produktif dan membawa kebahagiaan.

3. Menunaikan Zakat

Memberi ternyata memang bisa memberikan kebahagiaan kepada sang pemberi, ini sudah dibuktikan oleh berbagai penelitian ilmiah. Kebiasaan memberi (tentu sesuai kemampuan masing-masing) juga bisa mengikis sifat kikir. Harta adalah titipan untuk mengantarkan ridho ke surga Allah. Banyak orang tidak bahagia karena tersandera oleh harta. Hidup sewajar nya, banyak memberi, dijamin kita akan lebih bahagia.

4. Menjaga Kemaluan

Berapa banyak selebriti atau orang di sekitar lingkungan kita yang menjadi tidak bahagia akibat hal yang satu ini, pasangan yang selingkuh, anak-anak korban broken home, poligami diam-diam, atau hamil di luar nikah, semua berbuntut pada masalah. Padahal semua nya berawal dari satu hal, mengontrol hawa nafsu. Hanya untuk kenikmatan sesaat namun harga yang harus dibayar teramat-amat mahal. Banyak orang-orang yang kita lihat sukses dan bahagia adalah orang-orang yang setia dengan pasangan nya.

5. Menjaga Amanah atau Kepercayaan

Seseorang yang kita hormati biasanya juga adalah seseorang yang memiliki integritas diri, integritas diri itu dibentuk tidak secara instan. Satu nya perkataan dan perbuatan, tepat waktu, jujur, memegang prinsip, berani untuk hal yang benar. Orang-orang yang amanah jelas pasti akan lebih bahagia.

6. Menepati Janji

Janji gampang diucapkan namun mungkin juga gampang terlupakan. Mungkin tidak lupa, namun menunaikan janji terkadang tidak semudah mengucapkan nya, kegagalan menepati janji sebenarnya akan berbekas bukan hanya pada orang lain namun juga pada orang itu sendiri. Keberhasilan menepati janji secara fitrah manusia akan memberikan kepuasan tersendiri. Hati-hati dengan janji yang kita ucapkan, jika berani berjanji pastikan kita tahu bagaimana menepati nya, pastinya ini akan lebih membuat kita bahagia.

7. Memelihara Sholat

Hikmah sholat telah disebutkan di nomor pertama dalam list ini, bayangkan jika makna sholat itu terus terbawa di antara waktu sholat. Dalam sehari kita sholat lima waktu, terus menerus kita diingatkan. Istilah nya sholat setelah waktu sholat. Sehingga selain wajah yang bersih “bercahaya” karena selalu dibersihkan dengan air wudhu, begitu pula dengan hati kita.

Bahagia itu sederhana dan tidak mahal, kadang yang membuat ribet ya diri kita sendiri ya :-)

Mengalami Digital Fatique

Folder di iPhone SayaGambar di samping/atas adalah tampilan salah satu folder di iPhone saya, saya aktif hampir di semua jejaring sosial besar.

Itu belum termasuk delapan email aktif, messenger berbagai platform, channel berita lokal & luar negeri mulai dari yang lokal detik.com, Forbes Tech News sampai dengan update temuan-temuan terkini dari Explorer ‘Curiosity’ di planet Mars.

Status updates dari social media, perkembangan hardware, software, berita startups, email kantor maupun pribadi, setiap waktu membanjiri notifikasi di iPhone.

Se hobi-hobi nya saya, akhir nya ‘pegal’ ya, hahaha… ini yang disebut sebagai digital fatique atau social media fatique.

Namun profesi saya sebagai dosen di bidang Sistem Informasi (ICT), mau tidak mau menuntut untuk saya untuk selalu up to date dan gampang untuk dihubungi oleh mahasiswa via berbagai jalur digital (ini kebijakan saya pribadi).

Setelah berbagai pertimbangan, akhirnya saya menempuh jalan tengah yang semoga efektif:

1. Memakai Blackberry Sebagai HP Kedua (Pribadi)
[Read more…]

Sikap Menghakimi dan Stereotip

Dr SeussIngin sekali mengatakan kalau saya ini orang yang bijaksana dan sempurna, tidak pernah menilai orang lain dari sekadar penampilan nya, atau tidak stereotip terhadap orang dari suku atau kalangan tertentu, tapi kenyataan nya tidak.

Tanpa disadari I do judge people, saat melihat seseorang masih menggunakan hp model lama, saya langsung memutuskan kalau orang tadi pastilah gaptek dan nggak mau meng-update diri nya. Saat mendengar seseorang berasal dari suku tertentu, saya langsung menyimpulkan kalau karakter orang tadi pasti cenderung pemarah dan keras kepala. Dua hal tersebut baru contoh kecil nya saja. Dan saya yakin banyak orang melakukan hal ini juga kan (ups.. saya baru saja menghakimi lagi tuh.. hehe..)

Tentu tidak semua penilaian tersebut adalah negatif, bisa juga penilaian nya hal-hal yang positif, namun kemungkinan besar akan lebih banyak negatif nya daripada positif nya. Kenapa kita melakukan hal tersebut? Bukan nya ini manusiawi ya?
[Read more…]